IKLAN HEADER

Photobucket

Kamis, 12 April 2012

FSLDKN vs SEPEDA GUNUNG


“….Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam warahmatullah”, jawabku singkat. Suara yang sangat familiar menyapaku dengan nyaring.
“Udah di kost?” Pertanyaan yang selalu ia tanyakan sesaat setelah semburat merah menghilang dari langit.
“Udah, Ma. Sedang apa kalian?” tanyaku.

“Mama lagi menemani adikmu. Tadi mama nasehati dia.”
“Kenapa ma?”
“Adikmu minta sepeda gunung kayak punya si Farel. Terus mama bilang sama dia, gak semua keinginan kita bisa dituruti, nak. Gak semua orang bisa kita ikuti.”
Sejurus kemudian, aku teringat bahwa adikku yang saat ini duduk di kelas 3 SD  itu memang sudah sangat lama menginginkan sepeda. Tapi karena salah satu adikku ada yang berniat lanjut ke universitas pada tahun ini, maka digalakkan  ‘Paket Hemat’ di keluarga kami.
Malam itu, ku akhiri percakapan kami dengan salam  setelah kami saling bercerita tentang hari ini. Ya allah, titipkanlah kebahagiaan di hati ayah dan ibuku.
Sejak saat itu, niatku untuk menghadiri FSLDKN di Bandung kembali ku urungkan. Padahal tadi sore niat itu sudah muncul sejak salah seorang qiyadah mengatakan bahwa tidak ada pembatasan jumlah peserta, yang mau ikut bisa mendaftar lewat Puskomda.
Di mataku, FSLDKN itu sungguh luar biasa menarik untuk diikuti kawan. Mengapa???
1.      Bandung, adalah salah satu destination impianku. Ia masuk dalam 1 dari sekian target yang kutulis di tempat yang paling sering ku lihat, menerapkan pengalaman Anang Ambar Prabowo.
2.      FSLDKN, huruf N di buntutnya itu selalu membuatku geregetan. NASIOANAL!!!
Sejauh ini, alhamdulillah masih satu event  NASIONAL yang pernah ku ikuti, tahukah kau kawan apa  itu? Ujian NASIONAL!!!
3.      A friend of mine yang sudah tidak lama ku temui menjadi panitia di sana. Menemuinya sungguh suatu kebahagiaan tersendiri.
4.      Yang terpenting, mendapatkan banyak ilmu dari LDK percontohan (Gamais ITB) maupun dari LDK seluruh pelosok negeri, berbagi pengalaman, mencari tahu bagaimana kiat berdakwah yang efektif, bagaimana perkembangan dakwah di seluruh pelosok negeri,dll. adalah suatu hal yang subhanallah. Belum lagi bertemu dengan sesama pejuang kebenaran.
Namun, ketika adikku saja yang sudah lama menginginkan sesuatu tidak bisa memperolehnya, ada rasa tak tega di hatiku bila aku berangkat ke sana. Sebenarnya, aku mempunyai sedikit tabungan , tapi karena sebentar lagi insyaallah aku akan mengadakan penelitian akhir, maka tak berani rasanya mengotak-atik uang itu.
Kawan,
Tahukah kau sungguh sedih rasanya kawan, ketika berada di dekat kalian yang kala itu sedang memusyawarahkan perihal kepergian kalian ke Bandung. Karena sayangnya aku tak duduk dalam lingkaran kalian, aku hanya terduduk di sudut dinding yang ikut membisu seakan ia ingin menjadi rekanku kala itu. Mataku tertunduk berpura-pura tidak perduli,  tetapi telinga yang dibuat dengan rancangan dahsyat dari sang pencipta ini tak bisa diajak kompromi. Ia terus saja menangkap apa yang akan kalian bicarakan, bagaimana mendapatkan dana, bagaimana mekanisme keberangkatan, dll.
Ketika kesedihan menerpa, tiba-tiba aku teringat seorang ibu-ibu yang menggendong anaknya yang terkulai lemah. Hari itu kali kedua aku menjumpainya. Anaknya sangat kurus dan lemah. Dan setelah berbincang, ternyata sang anak telah divonis menderita gizi buruk dari dokter.
“Ibu bingung, Nak. Dokter bilang, berikan saja makanan yang enak-enak ya ,Bu. Tapi, saya ini tukang cuci, Nak. Gaji Cuma seratus ribu. Rumah tidak punya.”
Sorot matanya penuh kesedihan. Dengan sabar ia gendong anaknya kemana-mana. Duh, hati…. Beristighfarlah banyak-banyak. Lihatlah  ibu itu. Untuk makan pun ia susah. Sementara engkau, engkau menuntut terlalu banyak pada-Nya. Lihatlah orang-orang di sekitarmu, yang bahkan untuk bersekolah ia harus bekerja. Lihatlah mereka, yang bahkan untuk sesuap nasi harus berpeluh di terik panas. Ingatlah, dakwah tetap berjalan meskipun engkau tak pergi ke sana.
“Maka nikmat Tuhan-Mu yang manakah yang kau dustakan?!!”
Dari kejadian ini, dapat ku ambil pelajaran, bahwa jangan terlalu sering melihat ke atas, karena leher ini akan terasa sakit dan pegal sementara sang bintang tetap enggan turun ke bawah. Yang terpenting adalah berikhtiar dan berdoalah.
Aku yakin, ada hikmah di balik kebelumbisaanku pergi ke FLDKN. Karena dengan jelas Allah beritakan
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui” (Q. S. Al-Baqarah:216)
Semoga suatu saat nanti aku akan pergi ke sana, menjemput cita-cita di negeri seberang. Mohon doanya. Mohon maaf bila karya tulis ini tidak enak dibaca dan tidak menarik. Maklum, baru memulai untuk belajar menulis.
Teruntuk sahabat-sahabatku yang luar biasa, semoga pengalaman di FSLDKN kelak dapat membawa kita menyongsong USU madani. Salam hangat buat saudara-saudara di sana. Tak sabar rasanya mendengarkan  pengalaman kalian!!!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar